Kamis, 22 Maret 2018

Dimuat Radar Kediri, 9 Maret 2018



Berderma Agar Terpilih Jadi Pemimpin Daerah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bagaimana hukumnya berderma dengan misalnya memberi uang atau barang pada orang agar mau memilihnya menjadi wali kota, bupati, atau gubernur. Mohon penjelasan, terima kasih (Ridho, Kediri, 085852877xxx).

Jawaban :
Saudara Ridho yang berbahagia, dapat kita ketahui bersama bahwa pemberian yang dilakukan menjelang pesta politik semisal Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) begitu marak saat ini. Lebih-lebih mendekati hari pelaksanaannnya. Karena itu perlu dijelaskan beberapa hal sebagai berikut.
Pertama, telah terjadi perubahan sosial yang meningkat dan tajam seiring dengan perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat dalam berbangsa, bernegara dan beragama. Perubahan tersebut mengakibatkan perubahan penggunaan bahasa dan maknanya sekaligus. Bahasa agama yang sedemikian transendental (luhur) berubah menjadi bahasa yang mengandung kepentingan politik. Sebagai contoh istilah silaturrahmi menggambarkan makna tulus untuk mewujudkan ikatan persaudaran dan berubah makna menjadi salah satu aktifitas politik yang disebut kampanye. Juga aktifitas pemberian dalam bentuk hibah, shadaqah, infaq dan bentuk derma lain berubah maknanya menjadi suap, money politic maupun gratifikasi. Semua perubahan itu terjadi oleh faktor kepentingan dan motif yang melatar belakanginya.
Kedua, penentu aktifitas yang pada dasarnya baik itu terletak pada niat. Istilah niat menggambarkan arah aktifitas yang menjadi tujuan akhirnya. Dalam bidang ibadah, niat menjadi penentu keabsahan. Namun di atas niat terdapat ruang yang lebih besar lagi dan disebut sebagai motif (al-qasdu). Seseorang yang melaksanakan salat dinyatakan keabsahannya dengan memenuhi semua rukunnya dan salah satu rukunnya adalah niat. Namun,  keabsahan yang tampak bersifat formal itu dipengaruhi oleh motif. Niat dapat menggugurkan keabsahan salat. Sementara motif tidak dapat membatalkannya.
Ketiga, motif memengaruhi perbuatan seseorang di tingkat etika (amaliyah batiniyah). Meskipun seseorang telah melaksanakan salat dengan memenuhi segala ketentuannya, secara formal salatnya dinyatakan sah. Dan bahkan dengan motif yang tidak sejalan dengan niatnya. Semisal salat dengan motif menunjukkan kealimannya. Namun, ibadah tersebut dinyatakan tidak memenuhi unsur etika. Tidak pantas, tidak sesuai dengan tempatnya dan tentu tidak memiliki bobot.
Atas gambaran di atas, secara formal sedekah yang diberikan dengan motif  memengaruhi dan menggiring orang untuk menjatuhkan pilihan pada calon tertentu tidak dinyatakan menggugurkan keabsahannya. Sangat berbeda jika sedekah tersebut telah dinyatakan dengan niat untuk mengajak, memerintah orang  menjatuhkan pilihan pada calon tertentu. Keadaan seperti ini dinamakan dengan suap (risywah). Karena istilah niat menunjuk pada formalitas perbuatan hukum.  Jika niatnya tidak benar, maka perbuatannya dianggap melawan hukum. Perbuatan melawan hukum  merupakan asal adanya sanksi.
Jika dilihat dari cara berpikir ini, redaksi yang menyatakan “agar mau memilihnya” merupakan pernyataan yang mengandung makna niat. Dengan demikian, kegiatan berderma sebagaimana pertanyaan di atas dapat dikategorikan sebagai suap. Dan suap dalam konteks hukum Islam dinyatakan sebagai perbuatan haram. Sementara, dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia, Tindak Pidana Suap diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1980. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Zayad Abd. Rahman, MHI dosen Hukum Islam Jurusan Syariah STAIN Kediri.


Minggu, 19 November 2017

Jawaban DialogJumat Radar, 17 Nopember 2017



Buka Warung Ketika Bulan Ramadan

Assalamua’alaikum Wr. Wb. Saya ingin menanyakan tentang mencari rezeki di Bulan Ramadan dengan membuka warung makan di siang hari ketika sedang waktu puasa. Bagaimana hukumnya ?. (Siska, Kediri, 085731139xxx)

Jawaban :
Saudari Siska yang berbahagia, meski saat ini kita tidak berada di bulan Ramadan, bulan dimana umat Muslim diwajibkan melaksanakan puasa dengan segala ketentuan-ketentuannya, tidak ada salahnya pertanyaan tersebut menjadi bahagian dari menuntut ilmu dan media saling mengingatkan di antara kita. Dan telah kita ketahui bersama, bahwa masalah tersebut telah menjadi polemik di kalangan masyarakat. Karenanya, perlu dijelaskan hal-hal sebagai berikut.
Pertama, dalam masyarakat yang homogen dalam pengertian hanya terdapat satu jenis agama yang sama yakni masyarakat Muslim, maka menjual makanan di siang hari pada bulan Ramadan dinyatakan sebagai bentuk kemaksiatan. Tentu dengan argumentasi, jika diduga kuat bahwa pembeli makanan tersebut akan mengkonsumsinya sebagai tanda tidak melaksanakan puasa dengan tanpa alasan. Sementara, puasa merupakan kewajiban individual bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat-syarat melaksanakannya. Pada titik ini, membuka warung dalam pengertian memberi kesempatan pada orang lain untuk tidak berpuasa dinyatakan sebagai bentuk ketidaktaatan pada ajaran agama. Dan ketidaktaatan itu dinyatakan sebagai bentuk dosa. Karenanya, membuka warung untuk tujuan di atas tidak dapat dibenarkan.
Kedua, sebagaimana kita ketahui bersama berkaitan dengan merebaknya fenomena penawaran kuliner pada siang hari di bulan Ramadan. Jika hal tersebut dimaksudkan untuk menyediakan aneka olahan atau masakan untuk kepentingan berbuka puasa, tentu penjualan aneka makanan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk kemaksiatan. Sebaliknya, dikategorikan sebagai jawaz (boleh). Selaras dengan bagian kedua ini, jika penawaran kuliner dimaksud untuk melayani orang-orang yang tidak dalam kategori wajib melakukan puasa seperti musafir, wanita yang menjalani nifas/haid, orang sakit atau anak kecil.  
Ketiga, dalam perspektif kemaslahatan, terutama melihat fenomena penjualan kuliner maupun beroperasinya warung makan di siang hari pada bulan Ramadan dalam masyarakat yang majemuk, penyelesaian masalah ini sepatutnya diserahkan pada kebijakan pemerintah. Diktum kebijakan penguasa ini, dalam kaidah fikih dinyatakan bahwa seluruh kebijakan pemerintah harus senantiasa disesuaikan dengan situasi dan kepentingan masyarakat. Kepentingan masyarakat yang dimaksud menyangkut kebutuhan dan hak bagi setiap warga negara. Untuk kepentingan tersebut perlu dibentuk regulasi yang memadai. Bahwa hak setiap warga harus senantiasa menjadi jaminan negara. Karenanya, lapangan pekerjaan dengan membuka warung dapat disesuaikan dengan situasi dan keadaan masyarakatnya. Sekedar untuk memberikan gambaran situasi ini, warung makan dan yang sejenis dapat diberi ruang terbatas dengan tidak melebihi kapasitasnya mengganggu orang yang berpuasa. Sebaliknya, tidak mengekangnya hingga menghilangkan hak masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Zayad Abd. Rahman, MHI, dosen Hukum Islam Jurusan Syariah STAIN Kediri.





 

Sambutan Bloger's di Pembukaan Konferensi Cabang NU, Jumat 17 Nopember 2017



Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Para Alim, Para Ulama, Para Kyai, Para Masayikh yang kami hormati
Yth, Forkopimda Kabupaten Kediri
Yth,  Bupati Kediri, dr. Hj. Haryanti atau yang mewakili
Yth, Bapak Kapolres Kediri,
Yth, Bapak Dandim 0809,
Yth, Ketua Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri
Yth, Pengadilan Agama Kabupaten Kediri
Yth, Kepala Kejaksaan Negeri Kediri
Yth, Pengurus Wilayah NU Jawa Timur
Yth, Segenap Pengasuh PP Hidayatus Sholihin sebagai shohibul bait.
Yth, Para Kyai dan Pengasuh Pondok Pesantren
Yth, Pengurus Cabang NU Masa Khidmat 2012-2017
Yth, Pimpinan Cabang Badan Otonom NU Kabupaten Kediri
Yth, Peserta Konferensi Cabang NU Kabupaten Kediri ke 10
Yth, Partai Politik yang berkenan hadir
Yth, Kasi Kesbanglinmas Pemerintah Kabupaten Kediri, Bapak Mujahid.

Hadirin-Hadirat yang dimulyakan Allah
Sebagai ungkapan rasa syukur, perkenankanlah kami menghaturkan ungkapan puja-puji sanjung kepada Allah Yang Maha Berkehendak atas limpahan taufiq, hidayah dan ridoNya sehingga kami mampu melaksanakan amanah konferensi cabang NU yang ke 10 dalam keadaan kondusif, bersahaja dan bermakna. Semoga ungkapan rasa syukur ini menjadi sababiyah dibukanya pintu kenikmatan yang lebih besar dalam berkhidmah kepada jamiyyah yang kita cintai, Nahdlatul Ulama’.
Sholawat serta salam kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW beserta seluruh keluarga, kerabat dan sahabatnya dan umatNya dengan harapan semoga kita senantiasa berada dalam panji-panjinya kelak di hari kebangkitan.

Hadirin-Hadirat yang kami mulyakan
Sekapur sirih prakata ini ingin kami sampaikan sebagai ungkapan rasa bahagia dalam peristiwa penting pada hari ini.
Pertama, kami sampaikan terima kasih kepada para tamu undangan yang hadir dalam event ini. Sekaligus kami mohon doa restu untuk kelancaran dan kemudahan kegiatan konferensi ini hingga penghujung acara. Kami merasa perlu untuk sak yeg sak eko proyo, tanpa kehadiran bapak/ibu sekalian tentu tidak memiliki arti apa-apa. Karenanya, sebagai penyambung tali silaturrahim, moment penting ini dapat menjadikan tegaknya kebersamaan dalam membangun jam’iyyah kita untuk semakin memenuhi harapan mu’assis dan lebih dari itu sebagai tanda kecintaan kita kepada Indonesia, Negeri yang kita cintai.

Hadirin-Hadirat yang kami mulyakan
Konferensi ini mengambil tema, Meneguhkan jati diri keulamaan dan kebangsaan dalam mewujudkan Islam sebagai rahmat semesta, sebagai rahmatan lil ‘alamin. Tema ini sengaja dipilih karena memiliki makna penting dan mendasar.  Fenomena radikalisme, liberalisme dan memuncak dalam memaknai hubungan agama dan negara menjadi kian jauh dari kesadaran Islam sebagai rahmat. Sebaliknya, pemaknaan yang tergesa-gesa dan tidak mendalam menjadikan Islam sebagai agama rahmat ini berbalik menjadi malapetaka kemanusiaan. Bola panas dari api pemahaman yang tersesat itu berubah menjadi nestapa panjang kaum muslim di belahan dunia lain, tepatnya di Timur Tengah. Namun tidak di sini. Di Nusantara, Islam justru memberi warna yang menyejukkan. Jauh dari pemahaman yang serba harfiyah.
Dengan didorong oleh semangat kesemestaan, Islam disemaikan dalam pertemuan yang indah dengan budaya lokal. Karena itu, kita patut bersyukur dan bangga bahwa penyemai kesejukan itu adalah jam’iyyah kita, Nahdlatul Ulama.  Klaim ini tentu tidak berlebihan mengingat akar Nahdlatul Ulama telah berlangsung ratusan tahun silam. Pengalaman merawat sejarah ini tak bisa dihargai dengan apapun kecuali kecintaan kita dengan Indonesia. Indonesia adalah kita. Kita adalah Nahdlatul Ulama.

Hadirin-Hadirat yang kami mulyakan
Selaku ketua panitia konferensi, perlu kami laporkan bahwa,
Pertama, sebagai rangkaian konferensi, sidang komisi telah dilaksanakan pada tanggal 1-4 Nopember 2017 dengan perincian sebagai berikut :
a. Sidang Komisi A (Organisasi) Rabu, 1 Nop 2017
b. Sidang Komisi B (Program) Kamis, 2 Nop 2017
c. Sidang Komisi C  (Tausiyah/Rekomendasi) Jumat, 3 Nopember 2017
d. Sidang Komisi D (Bahtsul Masail) Sabtu, 4 Nopember 2017.

Selepas acara pembukaan ini, besok, Sabtu, 18 Nopember 2017 akan digelar berbagai kegiatan yakni sidang pleno dimulai pleno tatib, komisi dan pleno LPJ. Dan Sabtu malam akan digelar penetapan Rais Syuriah dan pemilihan Ketua Tanfidziyah masa khidmat 2017-2022.
Sementara itu, menurut catatan kesekretariatn peserta konferensi diikuti oleh 26 MWC dan .................ranting. 

Hadirin-Hadirat yang kami mulyakan
Sebagai penutup dari sambutan ini, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas partisipasi dan bantuan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu teriring do’a jazakummullah khairal jaza’. Dan permohonan maaf atas segala kekurangan dan ketidaknyamanan selama berada di arena konferensi.
Akhirnya, kami ucapkan selamat berkonferensi, semoga Konferensi Cabang NU yang ke 10 ini senantiasa menghasilkan keputusan-keputusan strategis dan penting serta menghasilkan profil pemimpin yang berkhidmah dengan tulus bagi kemajuan dan kejayaan Nahdlatul Ulama.

Wallahul Muwafiq ila aqwamit thariq.  





Sabtu, 24 Desember 2016

Khutbah Jumat Bahasa Jawa, 23 Desember 2016



الحمد لله الذي رفع من أراد به خيرا بالعلم والإيمان ، وخذل المعرضين عن الهدى وعرضهم لكل هلاك وهوان . وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، الكريم المنان ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الذي كمل الله له الفضائل والحسن والإحسان ، اللهم صل وسلم على محمد وعلى آله وأصحابه والتابعين لهم مدى الزمان . أما بعد، فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون.

Para rawuh ingkang minulya...
Mangga kita tansah ningkatan pengabdian kita dumateng Allah subhanahu wataala sarana taqwa ingkang sak leres-leresipun. Inggih punika nglampahi perintah lan nebihi laranganipun kanti ilmu ingkang dipun warisaken para Nabi dumateng para ulama kanthi dasaring iman dumateng Allah SWT.
Para rawuh ingkang minulya...
Kepareng matur ingdalem khutbah Jumat ingkang minulya menika gegandengan kaliyan situasi ingkang akhir-akhir puniko. Inggih punika wontenipun kedadian-kedadian ingkang dipun wastani darurat keimanan. Tegesipun tiyang Islam ngadepi persulayan ingdalem nyandra wilayah ingkang lebet menika. Kathahipun namung nyandak reribet ingdalem kalangan internal tiyang Islam kemawon. Tiyang Islam tansah sulaya ingdalem nguri-nguri persatuan dan gematinipun seduluran setunggal kaliyan sanesipun. Namung setunggal perkawis ingkang andadosaken rucahipun situasi menika. Inggih meniko masalah dereng tuntasipun nyesep keimanan dumateng Allah SWT. Antawis saking tumindak menika nukulaken sikap ngafiraken dateng tiyang Islam lintu, nganggep najis, ngrendahaken lan ingdalem puncakipun keteledoran kalawau nganggep musyrik. Lan saking tuduhan menika ngestuaken mejahi dateng tiyang Islam sanes sarana mboten sami anggenipun anggadahi pinemu ingkang lebet ingdalem babakan keimanan. Awit saking punika, kawula wiwiti saking pusat reribetanipun tiyang Islam inggih punika saking golongan Khawarij. 
Para rawuh ingkang minulya...
Khawarij salah setunggalipun kelompok ingkang didakwa kedah bertanggungjawab kaliyan pejahipun khalifah Usman bin Affan dateng Madinah. Awit sak derengipun Usman bin Affan kapundut, umat Islam manggihi punapa ingkang kaliyan ahli sejarah dipun wastani kaliyan fitnah kubra.  Inggih menika wontenipun situasi huru-hara ingkang dipun mandegani kaliyan setunggal piyantun Yahudi, Abdullah bin Saba’. Salah setunggalipun perkawis ingkang dipun dadosaken modal ngorat-ngarit keutuhanipun tiyang Islam inggih punika mbok bilih Usman mboten nderek dateng perang Badar. Lajeng alasan punika ingkang dipun dadosaken alat provokasi dateng masyarakat. Al-hasil usaha menika dadosaken masyarakat goyah anggenipun percados dateng kepemimpinan khalifah Usman bin Affan. Abdullah bin Saba’ sampun hasil anggenipun ngowahi situasi ingkang jenjem dados situasi chaos utawi tidak terkendali. Awit saking menika, njalari dateng golongan ingkang mboten paham situasi, terpancing kaliyan provokasi saking pihak ingkang mboten remen dateng kepemimpinan Usman ingkang jumawa.  Lan golongan ingkang gampil terpancing inggih punika warga ingkang manggen dateng pedusunan. Awit warga pedusunan menika tebih saking pengetahuan ingkang lebet ingdalem nyinau situasi ingkang berkembang. Mawi sifat brangasipun, warga pedusunan menika mboten srantan mejahi sayyidina Usman. Warga pedusunan ingkang lugu menika, ing babakan selajengipun dipun sebat kelompok Khawarij. 
Para rawuh ingkang minulya...
Sak bibaripun Usman bin Affan tilar dunya, Madinah ingkang dados ibu kotanipun kekuasaan Islam dados kosong kepemimpinan. Lajeng kelompok ingkang mejahi Usman,  ngajeng-ngajeng dateng Ali bin Abi Thalib nyepak dados khalifah selajengipun. Lan sak lajengipun Ali bin Abi Thalib dipun baiat kaliyan para sahabat ingkang manggen dateng Madinah. Ananging, Muawiyah, ingkang ngayahi Gubernur dateng Syria lan keleresan dados mindahanipun  Usman, mboten mufakat dateng kepemimpinanipun  Sayyidina Ali. Lan nuntut dateng Ali ingdalem ngupokoro perkawis ingkang gegandengan kaliyan pejahipun Usman bin Affan. Mbok bilih perkawis menika mboten dipun pungkasi, mangka Muawiyah ingkang bade saweg ngleksanaaken piyambak. Awit saking menika, Khawarij muda lajeng merapat ngraketaken gegandengan kaliyan pihak Ali bin Abi Thalib.  Al-hasil, Ali pinaring tambahipun penderek ingdalem akhiripun dados kelompok ingkang sanget sulayanipun dateng Ali, inggih punika Khawarij.
Para rawuh ingkang minulya...
Persulayan antawis pihak Ali lan Muawiyah mboten saged dipun pungkasi kanti rerembugan. Selajengipun peperangan ingkang dados pilihan ingkang dipun wastani perang siffin. Ingdalem kawontenan peperangan ingkang bade dipun menangaken pihak Ali, Muawiyah ngleksanaaken siasat diplomasi kanti wakil dateng Amru bin Ash. Lan peperangan saged dipun leremaken kanti nyawisaken mushaf al-Quran dateng tombakipun Amru bin Ash. Perdamaian menika dateng sejarah dipun wastani mawi tahkim. Peristiwa perjanjian damai menika kaleksanan dateng wilayah Harura, Kufah. Ingkang sak menika kalebet dateng wilayah Iran. Ingdalem kawontenan menika, bala tentaranipun Ali pecah dados kalih kelompok. Kelompok pertama, mboten sarujuk kaliyan bentuk  perdamaian. Awit perdamaian dipun leksanaaken ingdalem kawontenan unggulipun pihak Ali. Tamtu menika dados siasat belaka. Kelompok meniko lajeng medal saking kelompokipun Sayyidina Ali ingkang akhiripun dipun wastani Khawarij. Kelompok kaping kalih, tansah sarujuk dateng sedaya keputusanipun Sayyidina Ali. Awit ingdalem ajaran agami ingkang sejati, ngleksanaaken wawuh utawi damai dados kewajibanipun sedaya tiyang ingkang mukmin. Lan kelompok ingkang kaping kalih punika lajeng dipun wastani Syi’ah. Artosipun penderekipun Sayyidina Ali ingkang loyal lan setia. Awon saenipun kawontenan penderekipun manut dateng dawuhipun Sayyidina Ali.
Para rawuh ingkang minulya...
Kelompok Khawarij saklajengipun dipun pimpin kaliyan Abdullah Ibnu Wahhab al-Rasyidi kanti paham mbok bilih kelompok ingkang terlibat dateng peristiwa tahkim dipun hukumi kafir. Awit kekalihipun mboten ngginaaken hukumipun Allah. Ateges manut dateng perdamaian ingkang sejatosipun namung siasat belaka. Ananging Abdullah Ibnu Wahhab al-Rasyidi dipun pejahi tentaranipun Sayyidina Ali dateng wilayah Nahrawan, sak antawis 12 kilometer saking Baghdad, Irak.
Lajeng kepemimpinan Khawarij dipun lajengaken kaliyan Nafi’ Ibnul Azraq mawi paham ingkang langkung keras lan kereng tinimbang pimpinan sak derengipun. Pahamipun inggih punika pihak ingkang terlibat dateng tahkim dipun hukumi sami kaliyan musyrik.  Tamtu menika dados dalih mejahi samubarang tiyang ingkang mboten mlebet dateng kelompok Khawarij. Paham ekslusif lan ekstrim meniko kalampah mataun-taun. Lan dados paham baku dateng kelompok Khawarij. Ateges sinten mawon ingkang mboten mihak lan sarujuk dateng kelompok Khawarij mangka dipun wastani musyrik. Mbok bilih musyrik, mangka wajib dipun pejahi. Paham menika ingkang dipun ugemi kaliyan kelompok ISIS. Lan ISIS mungguhipun para pengamat dipun wastani kanti neo-Khawarij utawa Khawarij gaya baru. Kelompok ISIS sampun kathah manggen dateng kiwo tengen kita ing negari Indonesia menika.
Para rawuh ingkang minulya...
Mboten wonten karep lan pinemu ingkang awon dateng lampahipun sejarah kala wau. Ananging wonten seja ingkang gati menggah kita sedaya tiyang Islam. Pertama, paham Khawarij kanti pertela mboten saged dipun ugemi kanti pemanggih cethekipun nalar ingdalem ngleksanaaken ajaran agami.  Kaping kalih, peristiwa sejarah kepengker dados pitutur ingkang berharga lan aji kagem kita sedaya.  Awit sampun kalampah mawantu-wantu mbok bilih umat Islam dados jajahanipun propaganda-propaganda golongan ingkang mboten remen dateng ajaran Islam ingkang edi peni. Langkung-langkung ingdalem wekdal sakmeniko, umat Islam ampun terseret dateng pusaran berita-berita ingkang memecah-belah peseduluran melalui media sosial, media cetak lan media elektronik.
Para rawuh ingkang minulya...
Mugi-mugi khutbah ingkang asor menika saged nambahi waspada, ngeman keutuhan lan kedewasaan kita sedaya. Mugi wonten gino lan manfaatipun.

بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل الله منى ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم************
الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ اتَّقُوْا اللهَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ
قال الله تعالى : إِذَا جَآءَ نَصْرُ اللهِ وَالفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِى دِيْنِ اللهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ ِبحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَااَّلذِيْنَ آمَنُوْ ا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وعلى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الأحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيْ الحَاجَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللّهُمَّ لا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لايَخَافُكَ وَلا يَرْحَمُنَا، اللّهُمَّ انْصُرِ المُجَاهِدِيْنَ الَّذِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ، اللّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِيْنَكَ، اللّهُمَّ أَعِزَّ الإسْلامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَذِّلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُؤْمِنِيْنَ، اللَّهُمَّ إِنِّا نعُوذُبِكَ مِنْ البَرَصِ، وَالجُنُونِ، وَالجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّءِ الأَسْقَامِ تَحَصَّنَا بِذِى الْعزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ وَاعَتَصَمْنَا بِرَبِّ الْمَلَكُوْتِ وَتَوَكَّلْنَا عَلَى الْحَيِّ الَّذِى لاَ يَمُوْتُ رَبَّنَا لاتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّاب رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَاعَذَاب النَّاَر
عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإ حْسَانِ وَاِيْتَآءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكَمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اكْبرَ.